Sabtu, 20 Agustus 2011

("Technische Universitat (TU) Darmstadt") In Four Years From Now, I Will Go To Germany with My Wife... Insya Allah, Let's see.. Technische Universitat (TU) Darmstadt

Pendidikan di Jerman
Gratis... Bayar... Gratis (Lagi)...
KOMPAS/TONY D WIDYASTONO /
Selasa, 29 Juli 2008 | 03:00 WIB
http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/07/29/ 02582585/ gratis... .bayar... .gratis.lagi. ..

Akhir Mei lalu wartawan Kompas, Tonny D Widiastono, berkesempatan melihat
dari dekat kehidupan beberapa kampus di Jerman. Negeri penghasil
barang-barang berteknologi tinggi ini masih menjadi daya tarik bagi para
calon mahasiswa dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Di lain pihak,
kampus-kampus di Jerman banyak mengalami kemajuan dan perubahan. Berikut
laporannya.

Sisa-sisa pamflet berwarna oranye dengan tulisan warna hitam dan berisi
ajakan untuk berdemo bagi mahasiswa Technische Universitat (TU) Darmstadt
itu masih tertempel di sana-sini. Meski ajakan itu sudah berlaku sejak 24
Mei 2007, aksi dan gemanya masih terasa hingga satu tahun kemudian.
Bahkan, akhir Mei 2008 lalu demo mahasiswa masih terus dilakukan.

Demo itu dipicu keputusan negara bagian Hessen-Jerman yang memberlakukan
keharusan membayar biaya studi bagi para mahasiswa. Keputusan ini amat
mengagetkan mahasiswa karena selama ini kuliah di negara bagian itu masih
gratis. Selain itu, dengan adanya ketentuan membayar kuliah, berarti
pemerintah telah menghilangkan hak dan kesempatan yang sama bagi seluruh
masyarakat (kaya atau miskin) untuk mendapatkan pendidikan.

Atas ketentuan ini, para mahasiswa tegas menolak. Maka, lahirlah
pamflet-pamflet berisi ajakan demo. "Demo. Gegen Studiengebühren.
Verfassungsklage" (Demo. Melawan pungutan belajar. Komplain terhadap
hal-hal yang tidak konstitusional) .

Meski demikian, demo mahasiswa ini bukan sembarang demo, demo disertai
penelitian dan penyelidikan. Para mahasiswa menemukan ketentuan yang
termuat dalam undang-undang negara bagian bahwa lembaga pendidikan tidak
boleh memungut uang dari peserta didik.

Ketentuan inilah yang digunakan sebagai senjata oleh para mahasiswa dalam
berdemo. Demo-demo itu "membawa hasil". Mulai semester mendatang, kuliah
diselenggarakan tanpa pungutan uang alias gratis lagi

Sebagian kecil

Terkait bayar-membayar uang kuliah, Dipl-Ing Chip Rinaldi Sabirin,
mahasiswa S-3 Digital Control of Active Magnetic Bearings for High-Speed
Drives, Jurusan Teknik Elektro, Institut für Elektrische Energiewandlung,
TU Darmstadt, mengemukakan, pembayaran uang kuliah dimaksudkan sebagai
"bantuan" kecil atas beban biaya pendidikan yang harus ditanggung negara.

Selama ini biaya pendidikan mahasiswa teknik di TU Darmstadt sebesar 5.000
euro per tahun per mahasiswa, setara dengan Rp 73 juta (asumsi 1 euro sama
dengan Rp 14.600). Untuk membiayai 17.000 mahasiswa TU Darmstadt, setiap
tahun diperlukan biaya 85 juta euro.

"Jadi, kalau mahasiswa membayar uang kuliah 500 euro per semester atau
1.000 euro per tahun, yang saya dengar, jumlah itu tidak banyak
berpengaruh pada pembiayaan. Memang sudah diperkirakan, suatu saat,
belajar di Jerman harus membayar karena semakin banyak negara baru yang
menguasai teknologi. Hal ini membuat Jerman tidak menjadi 'penguasa
tunggal' teknologi. Dulu, negara berteknologi kuat hanya Jepang, Jerman,
dan Amerika Serikat. Sekarang mulai menyusul Korea Selatan, Taiwan, dan
bekas Jeman Timur," ujar Rinaldi Sabirin.

Ia mengakui, akhir-akhir ini masalah dana membuat Pemerintah Jerman dan
beberapa negara bagian kerepotan. Ke mana mereka harus mencari biaya
sebesar itu, sedangkan mereka yang berniat belajar ke Jerman terus
meningkat. Maka, meski memberi sumbangan kecil, penarikan uang kuliah itu
sebenarnya ada manfaatnya bagi perguruan tinggi sendiri. Di Jurusan
Elektro TU Darmstadt, misalnya, sudah banyak dilakukan pertemuan untuk
pembagian pemanfaatan uang kuliah, terutama untuk pengadaan sarana.

"Bahkan, universitas sudah mensyaratkan alat-alat praktikum baru sudah
harus digunakan oleh para mahasiswa baru semester mendatang. Ini
memerlukan biaya. Melihat kenyataan ini, meski sudah mengambil uang
kuliah, profesor tetap harus mencari dana lain di dunia industri untuk
membantu pendidikan," tutur Rinaldi Sabirin. (baca juga: Membuat
Pendidikan Selalu Aktual).

Daya tarik

Selain gratis, mutu pendidikan yang tinggi dan diakui dunia menjadi daya
tarik tersendiri bagi banyak mahasiswa dari seluruh dunia untuk belajar ke
Jerman. Hal itu juga diakui Dr Ing Gunadi Sindhuwinata, President Director
Indomobil.

"Yang amat menonjol dari pendidikan di Jerman adalah mutu yang bagus dan
gratis. Dulu itu semua berlaku pada semua perguruan tinggi di seluruh
Jerman. Kalau pun sekarang ada yang harus membayar, jumlahnya tidak besar
dan umumnya masih bisa dijangkau. Memang, pendidikan menjadi tanggung
jawab negara. Maka, dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya,
belajar di Jerman adalah yang paling murah dengan mutu yang bagus,"
ujarnya.

Salah satu penyebab mengapa mutu pendidikan di Jerman tetap tinggi antara
lain karena organisasi yang disentralkan, kurikulum standar yang berlaku
pada masing-masing negara bagian. Dan, semua itu diatur. "Sehingga, kalau
orang Jerman asli lulusan gymnasium ingin masuk universitas, mereka harus
mendaftar melalui Zentralstelle für die Vergabe von Studienplätzen,
semacam pusat penempatan mahasiswa. Sementara itu, bagi mahasiswa asing,
mereka harus melalui tahap pendidikan yang disebut studienkolleg selama
sekitar delapan bulan.

"Dalam hal mutu, Jerman memang tidak kenal kompromi. Ujian hampir selalu
berbentuk esai, tidak pernah berbentuk check system. Maka, jika mahasiswa
tidak memahami materi kuliah, akan sulit mengikuti ujian. Padahal, di sana
ada ketentuan, kalau dua kali gagal pada jurusan yang dipilih, mahasiswa
harus keluar, tetapi boleh pindah ke jurusan lain. Sementara itu, proses
kuliahnya, selain tutorial, mahasiswa diwajibkan untuk belajar sendiri.
Muatan belajar sendiri ini amat tinggi. Jika mahasiswa tidak biasa dan
tidak siap belajar mandiri, akan menemui banyak masalah atau kegagalan,"
tambah Gunadi.

Soal dosen, mereka umumnya dosen karier. Tetapi, tidak sedikit yang
diambil dari dunia industri. Dengan demikian, ada hubungan kuat antara
dunia pendidikan dan industri. Soal buku, mahasiswa tidak perlu khawatir
karena bibliotek yang lengkap selalu tersedia di mana-mana.